Search This Blog

Hizbut Tahrir Indonesia

Hizbut Tahrir Indonesia


Syaikh Al-Azhar Adopsi Piagam Mencurigakan Bikinan Kaum Sekuler

Posted: 24 May 2011 01:24 AM PDT

Dr. Ahmad Al-Tayeb Syaikh al-Azhar mengumumkan kemarin tentang rencana mengadopsi inisiatif “Piagam al-Azhar” yang berisi pemikiran dasar tentang hubungan antara agama, masyarakat dan negara, serta penerapan sistem demokrasi yang didasarkan pada pemilihan umum yang bebas langsung, periodeisasi kekuasaan dan pembatasan wewenang.

Hal itu disampaikan selama pertemuan kedua yang diselenggarakan oleh Syaikh al-Azhar dengan para intelektual Mesir di kantor Syaikh al-Azhar. Sementara di antara para intelektuan yang turut berpartisipasi dalam penyusunan “piagam al-Azhar” adalah Dr. Jabir Ushfur, salah seorang tokoh terkemukan pengusung arus sekulerisme di Mesir.

Piagam tersebut berisi penegasan kembali terhadap komitmen perjanjian internasional, dan menjaga kekayaan peradaban dalam hubungan masyarakat dan hubungan internasional, hal itu karena kesesuaiannya dengan tradisi luhur budaya Islam dan budaya Kristen, serta kesesuaiannya dengan pengalaman budaya bangsa Mesir, dan kesungguhan dalam menjaga kehormatan.

Piagam ini menegaskan kesucian peran peribadahan Islam dan Kristen, serta perlindungannya; berusaha untuk mencapai tingkatan keadilan sosial yang tertinggi; mengedepankan pembangunan; memerangi kemiskinan dan pengangguran; membangkitkan Mesir di semua sektor ekonomi, sosial dan budaya, sebagai prioritas tertinggi dalam proses transformasi demokratis.

Para intelektual Mesir memutuskan bahwa al-Azhar dan Dar al-Ifta Mesir, keduanya adalah badan yang menentukan referensi Islam, dengan tidak mengebiri hak bagi semua untuk menyampaikan pendapat yang telah memenuhi syarat-syarat ijtihad, berpegang teguh dengan norma-norma dialog, dan tidak menyimpang dari apa yang telah disepakati bersama.

Pada akhir pertemuan, Syaikh al-Azhar memutuskan untuk mengadakan pertemuan berkala dengan para intelektual intelektual melihat efektifitasnya. Dikatakan bahwa ia merancang pertemuan yang akan diselenggarakan pekan depan untuk membahas konsep negara sipil dan mekanisme pengembangan pendidikan agama (islammemo.cc, 23/5/2011).

Rezim Yordania Tidak lain Jongos Bagi Kepentingan Kolonial di Kawasan Timur Tengah

Posted: 24 May 2011 01:15 AM PDT

Raja Yordania Abdullah II memperingatkan kemungkinan intifada Palestina baru terhadap “Israel” dalam kasus kebuntuan yang terus berlanjutan terkait proses perdamaian Timur Tengah.

Raja Abdullah menegaskan dalam wawancara dengan jaringan berita Amerika “ABC News”, tangal 22 Mei bahwa berlanjutnya situasi sekarang terkait proses perdamaian hingga akhir tahun ini, merupakan perkara yang mengandung kemungkinan pecahnya pertempuran baru antara “Israel” dan Palestina.

Dalam konteks lain, Raja Abdullah II mendesak Presiden Suriah Bashar al-Asad untuk berdialog dengan rakyatnya. Ia menjelaskan bahwa ia telah berbicara berulang kali dengan Asad, dan menawarkan bantuan Yordania dalam memulihkan stabilitas dan ketenangan pada Suriah.

Rezim Yordania berupaya menjadi alat pemantau kekuatan kolonial sehingga dengannya dapat mengukur perkembangan di wilayah tersebut, selain peran keamanan yang dimainkannya dalam menopang rezim-rezim diktator di wilayah itu, serta menjalankan misi-misi intelijen untuk kepentingan kekuatan Barat, sebagaimana misi-misinya di Afghanistan.

Sebagai contoh terkait peran yang dimainkannya sebagai pemantau yang menyelidiki perkembangan situasi terbaru, dan memberi masukan kepada kekuatan kolonial Barat, maka Raja Abdullah sangat serius memperlihatkan ketakutannya terus-menerus akan kebuntuan situasi yang dikenalnya dengan proses perdamaian, di mana akibatnya sangat mengancam bagi kepentingan Barat;

Sebelumnya, pada tanggal 18/03/2007, ia menganggap bahwa proses perdamaian merupakan perkara darurat, dan saat-saat dimulainya penerapan proses perdamaian segera menjadi kenyataan.

Sebelumnya, pada tanggal 11/05/2009, ia telah memperingatkan tentang pecahnya perang di wilayah tersebut.

Dan pada tanggal 18/04/2010, ia memperingatkan akan pecahnya perang setelah bulan Juli.

Ia juga memperingatkan pada tanggal 5/12/2010 tentang apa yang disebutnya sebagai “bencana nyata tidak hanya mempengaruhi wilayah ini, melainkan juga bagian dunia lainnya, serta mengancam kepentingan strategis Amerika Serikat, Eropa dan masyarakat internasional.”

Pada tanggal 13/01/2011 ia memperingatkan akan kegagalan dalam upaya-upaya proses perdamaian.

Hari ini, ia mengulangi kembali pernyataan yang sama. Bahkan ia menunjukkan perhatian yang sangat serius terhadap rekannya “Israel” dan Palestina dengan sama!! Ia mengingatkan kekuatan Barat akan sesuatu yang menyusul perkembangan yang terjadi di wilayah Timur Tengah berupa ancaman-ancaman terhadap kepentingan Barat, apalagi terkait kekhawatiran akan runtuhnya rezim dan takhtanya bersama rezim-rezim yang sudah dan akan diterjang oleh banjir perubahan.

Jika tidak, apa yang dikhawatirkan Raja Abdullah II akan pencahnya intifada baru? Dan siapa yang menyerunya untuk menawarkan bantuan-bantuan rezimnya terhadap tiran Suriah? Serta apa yang mendorongnya untuk melibatkan pasukan Yordania agar menjadi perisai bagi rezim-rezim Teluk dan tameng untuk melindunginya?

Semua ini adalah peran untuk menjaga pengaruh kolonial, terutama Inggris, serta peran melindungi entitas Yahudi seperti yang dikatakannya dalam sebuah wawancara sebelumnya, “Jika tidak terealisasi solusi dua negara untuk kedua bangsa (Israel dan Palestina), maka masa depan akan sangat gelap bagi Israel dan semua.” Ia juga berkata, “Saya percaya bahwa masa depan Israel adalah berintegrasi ke dalam wilayah ini.”

Apa yang diperlihatkan Raja Abdullah juga peran untuk menjaga supaya umat tidak lepas cekikan kaum kolonialis, serta peran untuk menjamin kelangsungan dominasi Barat yang menjadi penopang rezim Yordania dan kekuasaannya, sebagaimana rezim-rezim lainnya yang membantu dalam melawan revolusi. Dengan demikian, mereka bukan bagian dari umat. Sebaliknya umat melaknat mereka, dan siang malam umat mendoakan kehancuran bagi mereka.

Sehingga aparat keamanan Yordania yang memanfaatkan jasa “preman” untuk melakukan serangan terhadap aksi masîrah (long march) yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir di Yordania dalam rangka mendukung pembebasan Syam di Ramtha, membuka tabir tentang sejauh mana ketakutan rezim ini akan jatuhnya pengaruh Barat dan para bonekanya, yang akan lenyap tanpa ada yang mengingatnya.

Umat telah berhasil menggulingkan Mubarak dan Ben Ali. Umat telah melakukan memberontakan terhadap Ali, Gaddafi dan Asad, yang akan menggulingkan Abdullah dan rezimnya, serta yang akan menggulingkan rezim-rezim tiran lainnya yang sedang ketakutan. Semua ini akan berjalan terus hingga terwujud perubahan yang sesungguhnya dengan berdirinya Khilafah di atas reruntuhan rezim ini. Dan ketika itu, penyesalan sudah tidak lagi bermanfaat bagi mereka. Sesungguhnya, mereka membuang ketergantungan pada pengaruh kolonial dan bantuannya itu lebih baik bagi mereka seandainya mereka berfikir. Sebab kemenangan akhirnya ada pada umat Islam bukan orang kafir. Sehingga nasib mereka kelak ada bersama sampah sejarah, dan di akhirat mereka akan mendapatkan siksa yang pedih. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (TQS. An-Nisa’ [4] : 139).

Sumber: pal-tahrir.info, 23/5/2011.

Nyayian Seorang Mantan Pelayan Setia Rezim Diktator Suriah

Posted: 24 May 2011 01:10 AM PDT

Surat kabar “Sharq Al-Awsat” edisi 16/5/2011 mempublikasikan hasil wawancara dengan Abdul Halim Khaddam, mantan wakil presiden Suriah. Khaddam berkata: “Apa yang terjadi pada rakyat Suriah merupakan dampak logis dari rezim diktator yang menguasai sistem kekuasaan ini. Di mana mulai dari Hafidz al-Asad, yang kemudian digantikan oleh anaknya. Artinya keluarga adalah pihak yang memiliki kekuasaan. Dan konsekwensinya keluargalah yang bertanggung jawab. Sehingga dalam hal ini, tidak ada seorang individupun dalam keluarga Assad, kecuali menggunakan pengaruh keluarga untuk mencapai keuntungan pribadi dalam melakukan penindasan dan pelecehan terhadap masyarakat.

Ia menambahkan: “Di Suriah, tentara bukan tentara rakyat, melainkan tentara bagi sekte penguasa. Mayoritas perwira tentara adalah dari satu warna. Di mana sebagian besar, jika tidak dikatakan semuanya adalah dari sekte Alawiyah, di Horan, Damaskus, Homs, Hama, Deir Al-Zour, Qamishli dan Banias, tidak ada seorang perwirapun yang dari luar sekte penguasa.”

Ia berkata: “Mengapa Israel khawatir terhadap rezim Suriah. Israel yang telah mengirim pesawat ke Deir Al-Zour dan melintasi sepanjang jalan, namun tidak satu pun yang berani untuk menembakkan roket (kepadanya). Israel juga telah mengirimkan beberap pesawat ke Ein al-Saheb 10 km dari Damaskus, lagi-lagi tidak yang berani untuk menembakkan roket kepadanya.”

Abdul Halim Khaddam, mengeluarkan pernyataannya ini dengan menyebutkan fakta-fakta yang sebenarnya sudah diketahui masyarakat. Akan tetapi ia lupa atau pura-pura lupa bahwa dirinya adalah bagian dari rezim diktator dan represif ini, bahkan ia termasuk di antara pelayan dan pendukung rezim yang paling senior. Di mana ia telah menduduki jabatan-jabatan penting, dan ia merupakan pendukung paling senior yang memperkuat pemerintahan keluarga al-Asad.

Ia telah menjadi pelayan keluarga ini sejak ia menjadi walikota Kenitra. Ia juga yang menyiarkan pernyataan melaui radio Suriah tentang jatuhnya Dataran Tinggi Golan, 18 jam sebelum kejatuhannya. Padahal ia mengetahui bahwa tentara Suriah telah mencapai pinggiran kota Tiberias. Ia menyiarkan pernyataan itu atas permintaan temannya Hafidz al-Asad yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan Suriah waktu itu, yang telah menandatangani kesepakatan untuk menjual Dataran Tinggi Golan kepada Yahudi.

Selanjutnya, sebagai Menteri Pertahanan, Hafidz al-Asad mengeluarkan perintah untuk pasukan Suriah yang bergerak ke arah Tiberias untuk segera mundur. Anehnya, dalam perintahnya ini, Assad tidak membuat rencana penarikan, namun semuanya diserahkan kepada para perwira dan tentara untuk mundur sesuka mereka, sehingga hal ini menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka. Kekacauan inilah yang menyebabkan banyak dari tentara Suriah yang terbunuh di tangan Yahudi.

Hafidz al-Asad telah mengosongkan bukit Abu al-Nada yang tinggi, yang darinya dapat mengawasi seluruh wilayah, dan tidak menghalangi masuknya tentara musuh. Sehingga hal ini mempermudah masuknya pasukan musuh dengan damai dan aman ke wilayah Kenitra dan mendudukinya tanpa ada perlawanan.

Setelah itu, Hafidz al-Asad melakukan kudeta tahun 1970 dibantu rekan-rekannya dari partai Baath. Ia mulai mempromosikan Abdul Halim Khaddam, sehingga pada tahun 1975 al-Asad mengangkat Khaddam menjadi Menteri Luar Negeri, dan kemudian diangkat sebagai wakilnya pada tahun 1984. Semua itu diberikan atas jasanya yang telah mengabdi kepada keluarga al-Asad.

Ia tetap dengan jabatannya itu hingga setelah meninggalnya Hafidz al-Asad pada masa putranya Bashar al-Asad. Bahkan ia yang mendukung dengan kuat pencalonannya. Khaddam bersama rekan-rekannya dari partai Baath mengamandemen konstitusi selama satu jam agar sesuai dengan umur diktator Bashar al-Asad, yang semestinya tidak berhak untuk menjadi presiden berdasarkan konstitusi mereka.

Khaddam tetap menjabat sebagai wakilnya sampai dengan tahun 2005. Kemudian ia meninggalkannya setelah ia merasa bahwa ada kelompok yang mengendalikan rezim. Dan ia pun mulai memuntahkan sesuatu yang telah lama ditelan dan dinikmatinya.

Sejak itu ia mulai berteriak keras menyerukan tegaknya rezim demokrasi yang busuk dan amis yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rezim diktator, kecuali dalam beberapa bentuk dan beberapa jenis metodenya.

Semua kejahatan yang dilakukan terhadap warga di negeri Syam, termasuk penghancuran daerah Hama, yang mengakibatkan puluhan ribu kaum Mukmin meninggal, penghancuran Tel Zaatar, pembantaian Tripoli dan kejahatan lainnya di Lebanon terhadap warganya, serta saudara-saudara mereka di antara warga Palestina, dan penghancuran kamp-kamp mereka, maka dengan semua itu Abdul Halim Khaddam bertanggung jawab bersama keluarga al-Asad, di mana ia telah menjadi pelayan setianya bagi keluarga yang busuk, serta rezimnya korup.

Namun yang sangat menyedihkan ada kelompok-kelompok yang menyebut dirinya kelompok Islam, hanya saja tidak memiliki kesadaran politik, dan beraliansi dengan orang ini (Khaddam) selama beberapa waktu. Kemudian-sekalipun terlambat-mereka menyadari bahwa mereka telah tertipu yang kedua kalinya, lalu mereka meninggalkannya. Sebelumnya mereka telah dibantai oleh rezim diktator, di mana Khaddam merupakan bagian darinya, pelayan setianya, dan orang yang terlibat dalam pengkhianatannya. Masihkah mereka berharap aliansi dengan kekuatan yang tidak ikhlas untuk menjatuhkan rezim busuk dan korup?! (kantor berita HT, 23/5/2011).

Di Depan AIPAC, Obama Tolak Negara Palestina

Posted: 23 May 2011 11:09 PM PDT

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menegaskan ia akan menentang setiap upaya PBB untuk menciptakan sebuah negara merdeka Palestina. Obama juga menegaskan kembali komitmen Washington untuk keamanan rezim Zionis Israel.

“Tidak ada suara di PBB yang akan mewujudkan sebuah negara merdeka Palestina,” ujarnya pada pertemuan tahunan Komite Urusan Publik Amerika-Israel (AIPAC) seperti dikutip Xinhua pada hari Ahad (22/5).

Dia menegaskan kembali komitmen teguh Washington bagi keamanan Israel. Dikatakannya, AS akan melawan upaya untuk mengucilkan Israel di PBB atau forum internasional lainnya, karena legitimasi Israel bukanlah masalah untuk diperdebatkan.

Dua hari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengkritik pidato Obama terkait masalah Timur Tengah, Presiden AS berjanji untuk mempertahankan superioritas militer Israel terhadap negara-negara tetangganya.

“Kami akan mempertahankan keunggulan kualitatif militer Israel. Kami telah meningkatkan pendanaan militer ke tingkat tertinggi,” tegasnya.

Seraya memperbarui komitmen pemerintahannya terkait keamanan Israel sebagai tanah air bangsa Yahudi, Obama menandaskan, Amerika mendukung solusi dua negara dengan pertukaran wilayah yang disepakati bersama.

Obama dalam pidatonya pada hari Kamis, mengatakan, perbatasan antara Israel dan negara mendatang Palestina harus berdasarkan pada garis batas 1967 dan diselesaikan dengan pertukaran wilayah.

Namun, Netanyahu langsung menyambut pidato itu dengan mengatakan, Israel tidak seharusnya diminta menarik diri ke perbatasan yang ada sebelum Perang Enam Hari 1967. (IRIB, 23/5/2011)

Visi Kolonial Baru Obama Bagi Timur Tengah

Posted: 23 May 2011 09:09 PM PDT

Bagi kebanyakan Muslim, pidato Obama tampak seperti retorika curang Amerika yang sama, yang tidak sesuai dengan realitas mereka yang membunuhi rakyat tidak berdosa, memberi dukungan bagi para diktator dan mengeksploitasi sumber daya alam.

Pidato Obama tentu saja ditujukan untuk audiens dalam negeri. Jajak pendapat terbaru yang dilakukan oleh Pew Public Opinion di Yordania, Turki, Mesir + Palestina - setelah terjadi gelombang pemberontakan di Timur Tengah - menunjukkan hanya 20% atau kurang rakyat yang memberi dukungan bagi Amerika Serikat. Obama mungkin tidak percaya bahwa dia akan mempengaruhi hasil jajak pendapat ini dengan pidato seperti ini.

Sebaliknya, ia berbicara kepada audiens dalam negerinya dengan menjelaskan mengapa Amerika perlu tetap terlibat di Timur Tengah, sambil membenarkan mengapa para pembayar pajak Amerika harus membayar pajaknya untuk memberikan bantuan ekonomi di wilayah tersebut.

Dia malu bahwa kebijakan Amerika yang  pertama dan terutama untuk wilayah itu adalah bagi kepentingan Amerika -  dan kepentingan-kepentingan itu adalah untuk mengamankan Israel, mengamankan pasokan Minyak dan mencegah kebangkitan Islam [dengan cara berbohong yakni untuk mencegah 'terorisme' ]

Dia mengatakan: Selama beberapa dekade, Amerika Serikat telah mencapai serangkaian kepentingan utama di wilayah ini: memerangi terorisme, dan menghentikan penyebaran senjata nuklir; mengamankan perdagangan bebas dan menjaga keamanan wilayah ini ; mendukung keamanan bagi Israel dan mencapai perdamaian Arab-Israel. Kami akan terus melakukan hal-hal ini … Kami percaya bahwa tidak seorangpun yang akan mengambil manfaat dari perlombaan senjata nuklir di wilayah tersebut, atau serangan-serangan brutal al Qaeda. Kami percaya bahwa orang di mana pun akan melihat ekonomi mereka lumpuh dengan terputusnya pasokan energi.

Dia menyoroti Mesir dan Tunisia dengan mengatakan:

Pertama, akan menjadi kebijakan Amerika Serikat untuk mempromosikan reformasi di seluruh wilayah, dan mendukung transisi menuju demokrasi. Upaya tersebut dimulai di Mesir dan Tunisia, di mana taruhannya tinggi - karena Tunisia berada di garda depan gelombang demokrasi ini, dan Mesir adalah merupakan mitra lama dan negara Arab terbesar di dunia.
Dia tampak menyiratkan bahwa Amerika, untuk kepentingannya sendiri, ingin mencoba mencuri Tunisia dari negara penakluk tradisional kolonialnya yakni Inggris dan Eropa.

Mengenai Mesir, dia menekankan betapa pentingnya untuk tetap terlibat dan membantu negara itu dengan dana. Namun, Stratfor, lembaga pengkajian kebijakan analitis mengkonformasikan pada hari yang sama mengenai sifat palsu perubahan itu: “Hal ini terus mengulangi kenyataan bahwa apa yang terjadi di Mesir pada bulan Januari dan Februari bukan merupakan revolusi. Tidak ada perubahan rezim; malahan yang ada adalah pelestarian rezim, melaluii kudeta militer yang dirancang secara hati-hati dengan menggunakan 19 hari demonstrasi populer menentang Mubarak sebagai tindakan untuk menglabui agar bisa mencapai tujuan …. Apa yang berubah adalah bahwa untuk pertama kalinya sejak tahun 1960-an, militer Mesir menemukan dirinya bukan hanya berkuasa, tetapi juga bisa memerintah, meskipun hanya merupakan pemerintahan sementara (yang ditunjuk sendiri oleh SCAF ).

Obama mengangkat isu ketakutan akan sektarianisme dan konflik keagamaan sementara mengabaikan kenyataan bahwa di bawah Khilafah orang-orang dari agama yang berbeda hidup berdampingan di wilayah itu dengan adil dan aman,

Obama berbicara tentang perubahan besar di wilayah itu tapi kemudian mengancam akan ‘mendukung’ wilayah itu dengan pinjaman dari IMF dan Bank Dunia - sesuatu yang telah menjadi bencana bagi wilayah-wilayah lain di dunia.

Pidato itu sangat menekankan bahwa Amerika agar terlibat di negara-negara tersebut karena kesempatan ekonomi, liberalisasi pasar dan dengan demikian dapat mempertahankan eksploitasi mereka.  Hal penting yang dia katakan

Sangat penting untuk dapat fokus pada perdagangan, bukan hanya pada bantuan (aid); pada investasi, bukan hanya pada bantuan ekonomi (assistance). Tujuannya haruslah sebuah model di mana proteksionisme memberikan jalan bagi keterbukaan …. karena itu dukungan Amerika bagi demokrasi akan didasarkan untuk memastikan stabilitas keuangan, mempromosikan reformasi, dan mengintegrasikan pasar yang bisa bersaing satu sama lain dan ekonomi global. Dan kami akan mulai dari Tunisia dan Mesir.

Pertama, kami telah meminta Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional untuk mempresentasikan rencana mereka pada pertemuan puncak G8 pekan depan atas apa yang perlu dilakukan untuk menstabilkan dan memodernisasikan ekonomi Tunisia dan Mesir ….

Kedua …. kita akan meringankan beban ekonomi Mesir yang demokratis dengan pengurangan hutang hingga $ 1 miliar, dan bekerja dengan mitra Mesir kami untuk menginvestasikan sumber daya ini untuk mendorong pertumbuhan dan kewirausahaan. Kami akan membantu Mesir memperoleh kembali akses ke pasar dengan menjamin $ 1 milyar pinjaman yang diperlukan untuk membiayai infrastruktur dan penciptaan lapangan kerja. …

Ketiga, kami bekerja dengan Kongres untuk membuat Perusahaan Pendanaan untuk melakukan investasi di Tunisia dan Mesir. …

Banyak orang telah berbicara tentang Rencana Marshal (Marshal Plan) bagi Timur Tengah tanpa mengingat bahwa pasca perang dunia II rencana bagi Eropa dan Jepang adalah menjadikan negara-negara itu berhutang kepada Amerika selama setengah abad.

Obama bersikap munafik karena mengabaikan dukungan Amerika bagi Mubarak, Assad, al-Khalifa dan lain-lain selama beberapa dekade, sambil mengatakan bahwa dia berada di sisi rakyat!

Dia juga mengulangi proposal yang sama bagi wilayah pendudukan Palestina - sebuah solusi apa yang disebut ’solusi dua-negara’ - dengan syarat bahwa Palestina mengakui Israel - juga menyebutkan bahwa Israel memiliki hak untuk menjaga keamanan sendiri tapi Palestina masa depan senjatanya harus dilucuti.

Kebohongan pidato Obama dapat terpapar dengan melihat kebijakan Amerika terhadap Pakistan - di mana Amerika masih  membom, menenggelamkan pasukan keamanan, dan mempertahankan para politisi korup untuk tujuan sendiri. Hal ini dapat terpapar atas dukungan Amerika bagi pemerintah Fasis Hassina di Bangladesh.
Rakyat di dunia Muslim seharusnya melihat solusi Obama bagi wilayah itu sebagai ancaman - karena pasti hal itu menunjukan siapa mereka. Itu adalah Amerika Serikat yang senantiasa melakukan intervensi untuk mempertahankan kontrol dan eksploitasi bagi kepentingan-kepentingannya sendiri.

Kita tidak boleh membiarkan hal ini, melainkan kita harus mencari perubahan nyata di bawah negara Khilafah - yang akan menggantikan para tiran dan diktator, menghapus pendudukan di tanah Muslim, dan memerintah untuk kepentingan rakyat - berdasarkan Al Quran dan Sunnah. (khilafah.com, 20/5/2011)